Mengenalkan Anak Remaja pada Valentine’s Day

Sebagaimana diketahui valentine’s day dikenal masyarakat pada umumnya sebagai hari berkasih sayang. Banyak dari remaja kita yang menyiapkan hadiah spesial untuk pasangannya/pacarnya. Tentu saja tidak hanya sampai disini, ekspresi kasih sayang yang ditunjukkan anak-anak remaja kita itu lambat laun berkembang kearah cara pergaulan yang tidak benar. tolak-valentine-merusakDengan alasan menyatakan kasih sayang, mereka seolah mendapatkan legitimasi untuk semakin mengekspresikan perasaannya pada lawan jenisnya. Ibarat kucing lapar melihat ikan pindang, remaja kita kian hari kian terjerumus pada pemikiran dan tindakan yang salah pada arti kasih sayang yang sebenarnya, sehingga tidak menjadi heran bila budaya remaja pacaran semakin merebak, pergaulan bebas semakin berkembang, bahkan karena alasan kasih sayang para remaja kita berani melakukan pergaulan layaknya suami istri di luar pernikahan.
Kasih sayang seyogyanya dinyatakan kepada orang yang tepat. Aturan tak tertulis masyarakat timur pada dasarnya menghargai dan sangat mendukung kasih sayang antar sesama manusia. Sejauh yang kita ketahui implementasi kasih sayang dalam budaya ketimuran adalah untuk orang-orang terdekat, misalnya menyatakan kasih sayang pada anggota keluarga atau kerabat. Kenyataannya anak-anak kita menterjemahkan hari kasih sayang (valentine’s day) tersebut dengan perilaku yang tidak benar. Sejauh yang penulis ketahui tidak ada satu agama diantara agama-agama yang diakui di Indonesia yang membenarkan pergaulan bebas, terutama Islam.
Kebiasaan over ekspresi kasih sayang ini pada akhirnya menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat karena menumbuhkankembangkan cara pergaulan dan budaya yang tidak baik. Kabar baiknya belakangan dinas pendidikan dan beberapa pemerintah daerah mengeluarkan himbauan tegas pada instansi pendidikan yang ada untuk larangan perayaan hari kasih sayang dengan cara yang tidak benar.
Cara Mencegah Dampak Buruk Valentine’s Day pada Anak
Anak-anak dan remaja memiliki emosi yang masih sangat labil. Pada usia tersebut mereka masih suka meniru apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, terlebih lagi saat ini semua perkembangan arus informasi mereka bisa mengikuti lewat akses dan penggunaan media sosial kapanpun dan dimanapun.
Anak-anak dan remaja kita masih belum menemukan kepribadiannya, sehingga sebagai orang tua ini adalah masa yang sangat rawan bila anak-anak dan remaja tersebut tidak diberikan pengarahan dan bekal yang sesuai. Terkadang bukan karena mereka tidak tahu apa efek positif dan efek negatif perilaku yang mereka ikuti itu, hanya karena tergelitik untuk mencoba atau membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya atau hanya agar mereka diakui dalam komunitas sosial mereka. Bagaimana melindungi anak-anak atau remaja kita dari pengaruh budaya yang tidak baik? Berikut beberapa tips yang bisa dipertimbangkan:
Memberikan pendidikan pra sekolah yang tepat
Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya harus menyadari peran utamanya adalah sebagai Ibu rumah tangga, mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak dengan benar, membiasakan hal-hal baik semenjak kecil, misalnya mengajarkan etika pergaulan, tegas pada anak bila menunjukkan perilaku yang kurang sesuai.
Bagaimana untuk ibu yang bekerja? Mendidik anak untuk menjadi aset berharga di masa depan bukan bersifat opsional bagi seorang ibu, dan menjadikan anak menjadi sosok yang ber-etika tinggi adalah tuntutan yang harus dipenuhi. Bagaimana jadinya bila pada masa tua nanti, saat ibu tidak sanggup lagi bekerja, sering sakit-sakitan lalu anak ibu tidak peduli dengan keadaan ibu karena alas an yang sama, yaitu memilih bekerja daripada mengurus ibunya, atau bahkan justru mengirim ibunya ke panti jompo?
Memilihkan jenis sekolah yang tepat untuk anak
Tempat pendidikan kedua setelah orang tua adalah sekolah. Pilihkan sekolah yang memperhatikan pendidikan moral/etika anak, sekolah yang tidak hanya menjejali anak dengan pelajaran sain (calistung: baca-tulis-hitung) semata. valentine-coklat-hari-kasih-sayangSekolah yang tidak terlalu menghabiskan waktu anak dengan pelajaran-pelajaran formal, sehingga anak tidak menjadi stres atau tertekan secara psikologis.
Memperhatikan lingkungan pergaulan anak
Sebaik apa pun anak di masa kecilnya, sesantun apa pun anak di rumah itu akan berubah drastis bila anak bergaul di lingkungan yang salah. Pergaulan lingkungan memberi andil 70% dalam membentuk cara berfikir dan cara bertindak anak. Bukan hal yang aneh ketika anak di rumah berbicara dengan cara yang sopan, lalu pulang ke rumah dengan membawa bahasa atau perilaku baru yang kita anggap kasar atau tabu. Oleh karenanya tugas orang tua untuk membersihkan noktah-noktah hasil pergaulan tersebut.
Memupuk kesadaran dan motivasi internal anak
Motivator terkuat seseorang adalah ada dalam dirinya sendiri. Melatih anak memiliki motivasi yang baik dalam berperilaku dapat dilakukan dengan:
a. Memberikan pelajaran akhlak islami
b. Mengenalkan anak dengan cerita kepahlawanan tokoh-tokoh dan keberhasilan tokoh tersebut.
c. Melatih anak bertanggung jawab, yaitu dengan memberikan tugas tanggung jawab sederhana, misalnya memberi
contoh anak untuk merapikan tempat tidurnya sendiri, melatih anak membersihkan atau membereskan mainannya
sendiri, dst.
d. Memberikan pujian atau hadiah pada anak atas keberhasilan anak dalam berperilaku positif
e. Hindarkan dari membandingkan anak dengan anak lain karena setiap anak memiliki potensinya sendiri-sendiri.
f. Melatih empati anak dengan mengajak anak pada kegiatan religi, misalnya menyantuni anak yatim, sholat
berjamaah di masjid, menumbuhkan rasa bersyukur anak
Hal-hal terssebut adalah contoh aktifitas yang dapat dilakukan orang tua dalam menjaga anak dari pengaruh pergaulan yang buruk (pergaulan bebas), seperti dampak buruk valentine’s day pada anak seperti telah diuraikan di atas. Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
  • Twitter
  • Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *